Translate

Kamis, 04 April 2013

Terbayar Lunas

Engkau Sudah Dibayar Lunas

menebus lunas

“ Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas ”
( 1 Petrus 1 : 18 )
Setelah hidup dalam kehidupan yang “layak” , waktu saya di bumi telah selesai. Hal pertama yang saya ingat adalah duduk di bangku ruang pembelaan di sebuah pengadilan. Ketika saya melihat ke sebelah kanan saya, di sana duduk “penuntut” yang terlihat berwajah kejam dan sadis. Ketika saya melihat ke sebelah kiri saya, di sana duduk “pengacara” saya, laki-laki yang berwajah baik dan lembut. Tiba-tiba pintu di sudut terbuka dan muncul Hakim dengan jubah panjang yang melambai-lambai. Kehadiran-Nya sangat mengagumkan sampai-sampai saya tidak melepaskan pandangan pada-Nya. Ketika dia mengambil tempat duduk di belakang mahkamah, dia berkata, “ Mari kita mulai. ”
Penuntun berdiri dan berkata, “ Nama saya Setan, dan saya di sini untuk menunjukkan pada-Mu mengapa orang ini milik neraka. ” Dia meneruskan dengan mengatakan kebohongan yang pernah saya katakan, barang-barang yang pernah saya curi, dan bagaimana saya berbuat curang pada orang lain di masa lalu. Setan mengatakan perbuatan tak wajar lain yang mengerikan di masa hidup saya, dan makin banyak dia berbicara makin dalam saya terpelosok di tempat duduk saya. Saya sangat malu sehingga saya tidak dapat melihat siapapun. Saya cemas pada Setan yang mengatakan semua hal tentang saya dan saya juga cemas pada wakil saya yang duduk diam tanpa menawarkan bentuk pembelaan sama sekali. Setan menyelesaikannya dengan kemarahan dan berkata, “ Orang ini milik neraka; dia bersalah terhadap semua yang saya tuntut; dan tidak seorang pun dapat membuktikan sebaliknya. Keadilan akhirnya akan dilayani hari ini. ”
Ketika tiba giliran-Nya, pertama pengacara saya bertanya apakah dia diperbolehkan mendekati mahkamah, dan Hakim pun memperbolehkannya. Ketika Dia berdiri dan berjalan, saya dapat melihat-Nya sekarang dalam Keagungan dan Kemuliaan-Nya dan Dia adalah Yesus Penyelamat saya. Dia berhenti, berbalik lalu berbicara, “ Setan benar mengatakan bahwa orang ini berdosa, saya tidak akan menentang pernyataan ini, dan benar upah dosa adalah maut, dan orang ini pantas untuk dihukum. ”
Yesus menarik nafas kemudian berbalik pada Bapa-Nya dengan mengulurkan tangan dan berbicara,  “ Bagaimanapun juga, Aku mati di kayu salib sehingga orang ini boleh hidup dan dia telah menerima Aku sebagai Penyelamatnya, maka dia milik-Ku. Namanya tertulis di buku kehidupan dan tak seorang pun dapat merenggutnya dari-Ku. ” Ketika Yesus duduk, Dia diam, menatap Bapa-Nya dan menjawab, “ Tidak ada lagi yang perlu diselesaikan. Aku telah menyelesaikannya. ”
Hakim mengangkat tangan-Nya yang hebat dan memukul palu dan berkata, “ Orang ini bebas hukuman. Untuknya telah dibayar lunas. Kasus ditutup. ” Setan berteriak marah dan berkata, “ Aku tidak akan menyerah, aku akan memenangkan yang berikutnya! ”
Ketika Tuhan menuntun saya keluar, saya bertanya pada Yesus, “ Pernahkah Kau kalah dalam satu kasus? ” Kristus tersenyum penuh kasih dan berkata, “ Setiap orang yang datang pada-Ku dan meminta Aku untuk mewakili mereka, mereka menerima putusan yang sama seperti kamu. Terbayar Lunas. ”

 

Titik Kecil

Cara Memandang

titik kecilSeorang motivator bisnis yang terkenal, Jim Rohn, diundang sebuah perusahaan untuk melakukan motivasi  memacu semangat karyawannya yang sudah mengendor.
Dalam presentasinya, Jim Rohn mengambil satu kertas putih yang besar, kemudian dia membuat sebuah titik hitam kecil dengan pen persis di tengah kertas itu.
Dia kemudian memperlihatkan kertas itu kepada semua orang yang hadir disana. Lalu bertanya, “Apakah yang dapat lihat di kertas ini?”
Dengan cepatnya seorang pria langsung menjawab “ Saya melihat sebuah titik hitam”.
“Baik, apa lagi yang kamu lihat selain titik hitam?” Jim kembali bertanya.
yang lainnya terus memberikan jawaban yang sama : “Hanya sebuah titik hitam.”
“Tidakkah kamu melihat yang lainnya, selain titik hitam?”
Jim bertanya terus mengejar jawaban lain. “Tidak” dengan serentak, hampir seluruh pengunjung itu menjawabnya.
“Bagaimana dengan lembaran kertas putih ini?”
Jim kembali bertanya “Saya yakin kamu semua pasti melihatnya, tetapi mengapa tidak ada yang memperhatikannya?
Dan hanya melihat pada sebuah titik kecil saja?”
Jim kemudian menjelaskan : “Dalam hidup ini, kita juga selalu lalai dan mengabaikan akan banyak hal hal yang baik, hal2 yang dahsyat, hal2 yang cermerlang, hal2 yang indah, yang kita miliki atau pernah terjadi di sekitar kita, dan kita selalu hanya Fokus dan memberikan perhatian pada masalah Kecil, masalah Sepele, masalah Keuangan, masalah Kekecewaan, masalah Kegagalan.
Masalah kita itu, persis seperti sebuah titik hitam kecil , dalam lembaran kertas besar ini.
Masalah itu hanyalah kecil dan tidak signifikan, jika kita dapat meluaskan pandangan kita untuk melihat dalam hidup kita, persis seperti kita lihat seluruh lembaran kertas ini, maka titik hitam tadi sangat kecil dan hampir tidak berarti.”
Apakah Anda termasuk orang yang juga selalu melihat titik hitam itu?
Spread the Word - Like and/or share this page, your friends will also love it and thanks for it.

Baik, Tuhanku— Kisah Abraham dan Sarah




Tuhan berkata pada Hawa,” namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu” (Gen. 3:16). Itu merupakan bagian dari beban dosa yang ditanggung wanita, dan hubungan suami istri berikutnya dalam Alkitab menggambarkan tunduknya istri atas perintah suami. Sarah dua kali dipuji oleh penulis Alkitab, yang pertama karena imannya (Heb. 11:11) dan untuk ketaatannya pada suami (1 Pet. 3:5, 6). Rasul Paulus lebih jauh berkata dia “begitu taat pada Abraham, sehingga memanggilnya tuan.”
Kami tidak bermaksud meminta para istri memanggil suaminya “tuan”, apalagi dalam budaya kita, tapi ekspresi Sarah merupakan cara menunjukan sikap tunduk. Aneh kalau melihat 2 prinsip ini, iman dan taat, sebenarnya berjalan bersama. Ketaatan bagi para istri pada dasarnya iman yang Tuhan kerjakan melalui suaminya untuk mencapai apa yang terbaik bagi istri. Dan itulah kisah kehidupan Sarah dengan Abraham.
Melihat saat awal benih iman. Kisah dimulai dari kota Ur, kota metropolis dekat garis pantai teluk Persia. Setidaknya satu orang menolak dosa penyembahan berhala diUr, karena dia mengenal Tuhan yang benar dan hidup. Kenyataannya, Tuhan telah berbicara padanya: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat” (Gen. 12:1-3). Bersenjata janji itu, Abraham mengambil resiko, dengan ayahnya Terah, sepupunya Lot, dan istrinya Sarah, memulai perjalanan panjang keutara disekitar daerah subur kekota Haran.
Pindahan tidaklah menyenangkan, terutama saat anda pindahan dengan unta atau keledai, dan juga saat anda tidak tahu kemana anda akan pergi! “Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui” (Heb. 11:8). Hal itu mungkin lebih berat bagi wanita daripada pria. Sarah tidak disebutkan dalam ayat itu, tapi imannya ada disitu, setiap titik setegar Abraham. Dia percaya Tuhan akan menopangnya melalui perjalanan ini dan menunjukan kepada suaminya tempat yang telah dipilihkan bagi mereka.
Sarah bukan yang wanita yang lemah, terlalu tergantung, dan berpikiran kosong. Orangtuanya memanggilnya Sarai, dan nama memiliki arti dalam dunia Alkitab. Namanya berarti “ratu.” Itu mungkin menggambarkan keindahannya, yang ditulis dua kali (Gen. 12:11, 14). Itu mungkin menggambarkan juga, pendidikannya yang tinggi, pembawaannya yang tenang, dan prilakunya yang anggun. Saat Tuhan mengganti namanya ke Sarah, artinya tidak berubah tapi lebih menambah arti keibuan. Dia dipanggil dalam konteks “ibu bangsa-bangsa” (Gen. 17:15-16).
Sarah seorang wanita yang pintar dan punya kemampuan. Tapi saat dia menikah dengan Abraham, dia membuat keputusan. Dia membangun tujuan hidupnya dalam tugasnya membantu suami memenuhi tujuan Tuhan dalam hidupnya. Itu bukan kelemahan. Itu merupakan kehendak Tuhan dalam hidup Sarah: ketaatan yang benar. Sebagian istri secara sistematik telah menyabotase rencana Tuhan bagi suami mereka karena mereka tidak ingin percaya Tuhan dan mempercayakan diri mereka pada hikmatNya. Mereka hanya tidak percaya Tuhan bekerja melalui suami mereka untuk mencapai apa yang terbaik baginya. Mereka merasa harus menolong Tuhan melalui dominasi mereka atas suami.
Kelihatan kalau ayah Abraham menolak untuk meneruskan perjalanan saat mereka mencapai Haran. Dia seorang penyembah berhala (Josh. 24:2), dan kota Haran pas baginya untuk menikmati sisa harinya. Dia menunda tujuan Tuhan bagi Abraham, tapi dia tidak bisa menghancurkan seluruhnya. Saat Terah meninggal, Abraham, berumur 75 tahun, pergi dari Haran ketanah yang Tuhan janjikan padanya (Gen. 12:4). Itu merupakan perpindahan kedua ketempat yang tidak dikenal, tapi dengan adanya Sarah disisinya, wanita yang tunduk dan beriman (Gen. 12:5). Hari-hari didepan akan menunjukan ketaatan dan imannya dengan sangat diuji.
Mari kita menyelidiki, kedua, pergumulan iman. Iman cepat bertumbuh dalam pergumulan. Orang yang berdoa pada Tuhan untuk melenyapkan masalahnya mungkin dipertanyakan kehidupan rohaninya. Kadang iman kita ditekan, tapi jika kita mengakui kegagalan dan menerima pengampunan Tuhan, kegagalan itu bisa menumbuhkan kerohanian kita. Abraham dan Sarah dipuji atas iman mereka dalam Alkitab, tapi kegagalan mereka juga ditulis sebagai nasihat dan penghiburan.
Serangan pertama datang saat mereka masuk Kanaan. Ada bencana didaerah itu dan Abraham memutuskan untuk meninggalkan tempat yang sudah Tuhan janjikan padanya dan pergi ke Mesir (Gen. 12:10). Mungkin dia sudah berkonsultasi dengan Sarah, dan dia sudah menunjukan kebodohan keputusannya, tapi seperti kebanyakan pria, dia tetap menjalankan rencananya tanpa mempertimbangkan kesulitan yang didatangkan bagi sang istri. Terlalu banyak pria yang menolak meminta nasihat istri. Mereka pikir kepemimpinan memberikan mereka hak khusus melakukan apapun yang mereka mau tanpa membicarakannya dengan istri dan kemudian menyetujuinya bersama. Mereka takut istri bisa menemukan cela dalam pemikiran mereka atau membuka keegoisan pikiran pendek mereka. Jadi mereka terus menjalan kan rencana mereka dan seluruh keluarga menderita karena itu.
Saat mereka didekat Mesir, Abraham berkata pada istrinya, “Memang aku tahu, bahwa engkau adalah seorang perempuan yang cantik parasnya. Apabila orang Mesir melihat engkau, mereka akan berkata: Itu isterinya. Jadi mereka akan membunuh aku dan membiarkan engkau hidup. Katakanlah, bahwa engkau adikku, supaya aku diperlakukan mereka dengan baik karena engkau, dan aku dibiarkan hidup oleh sebab engkau” (Gen. 12:11-13). Itu merupakan pujian bagi keindahan Sarah diusia 65 tahun tetap menarik sehingga Abraham berpikir orang Mesir bisa mencoba membunuhnya karena Sarah. Dan keindahannya tidak hanya dimata Abraham. “Sesudah Abram masuk ke Mesir, orang Mesir itu melihat, bahwa perempuan itu sangat cantik, dan ketika punggawa-punggawa Firaun melihat Sarai, mereka memuji-mujinya di hadapan Firaun, sehingga perempuan itu dibawa ke istananya” (Gen. 12:14, 15). Walau Abraham berpikir orang Mesir bisa membunuhnya untuk mendapatkan istrinya, dia yakin mereka akan memperlakukannya dengan terhormat jika mereka berpikir kalau dia adiknya. Dan itu benar. Mereka memberikannya banyak binatang dan pelayan untuk itu (Gen. 12:16). Memang, Sarah adalah saudara Abraham, saudara tiri (Gen. 20:12). Pernikahan seperti itu tidak lazim dimasa itu. Tapi yang mereka katakan pada firaun hanya setengah kebenaran, dan setengah kebenaran lagi kebohongan pada Tuhan. Dia tidak menghargai dosa.
Kenapa Sarah mau mengikuti rencana ini? Bukankah dalam hal ini ketaatan pada Tuhan melebihi ketaatan pada suami? Saya juga setuju. Seorang istri tidak bertanggung jawab taat pada suami saat ketaatan yang diminta berlawanan dengan kehendak Tuhan (cf. Acts 5:29). Sarah bisa saja menolak. Tapi itu menunjukan kedalaman iman dan ketaatannya yang sebenarnya. Sarah percaya janji Tuhan kalau Abraham akan menjadi bapa suatu bangsa yang besar. Karena disana belum ada anak, dia bisa dibelanjakan, tapi Abraham harus hidup dan memiliki anak walau itu dari wanita lain.
Dia juga percaya bahwa Tuhan akan campur tangan dan menyelamatkan dia sebelum tindakan tidak bermoral terjadi. Itu bisa terjadi melihat besarnya piaraan Firaun. Dia juga percaya Tuhan akan mempertemukannya kembali dengan suaminya dan menyelamatkan mereka dari kuasa Firaun. Dan karena dia percaya, dia tunduk. Tuhan bisa melindungi mereka dari keegoisan rencana Abraham, tapi iman Sarah pada Tuhan dan ketaatan pada suaminya tetap dengan indah digambarkan dalam cerita PL. Ujian sebenarnya dari ketaatan istri saat dia tahu suaminya membuat kesalahan.
Sulit dibayangkan seorang manusia melakukan hal rendah seperti yang dilakukan Abraham (Gen. 12:18-20). Dia gagal terhadap Sarah, menyedihkan, tapi Tuhan setia padanya. Dia menghargai imannya dan menyelamatkannya. Dia tidak pernah mengabaikan mereka yang percaya padaNya. Anda mungkin berpikir kalau pelajaran dari Tuhan ini akan mendalam dirasa dalam jiwa Abraham setelah ini sehingga dia tidak akan menjual istrinya untuk melindungi dirinya. Tapi dia melakukannya lagi. Sekitar 20 tahun kemudian dia melakukan hal yang persis sama dengan Abimelech, raja Gerar (Gen. 20:1-8). Ini menunjukan betapa lemah dan kurang imannya. Mungkin ada beberapa dosa yang kita pikir tidak akan melakukannya lagi, tapi kita harus hati-hati, karena itulah cara iblis menyerang kita. Suatu hal yang mencengangkan kalau Sarah tetap tunduk ketika hal ini terjadi, dan Tuhan kembali menyelamatkannya, bukti lain dari iman dan kesetiaan Tuhan.
Salah satu penekanan akan imannya dinyatakan dalam pernyataan: “Adapun Sarai, isteri Abram itu, tidak beranak” (Gen. 16:1). Tuhan kemudian mengubah nama Abram ke Abraham, dari “bapa yang ditinggikan” menjadi “bapa orang banyak”. Bagaimana dia bisa menjadi bapa orang banyak tanpa anak? Sekarang Sarahlah yang menjalankan rencananya. Dia menawarkan budak mesirnya, Hagar, sehingga Abraham bisa mendapat anak melaluinya. Kita harus mengakui kalau usulannya menunjukan kepercayaannya kalau Tuhan akan setia pada perkataanNya memberikan Abraham seorang anak. Itu jelas dimotivasi oleh kasihnya pada Abraham dan keinginannya mendapat anak. Dan membagikan suami dengan wanita lain merupakan pengorbanan besar baginya. Tapi itu bukan cara Tuhan. Itu merupakan salah satu solusi kedagingan. Dan cara Tuhan selalu yang terbaik bahkan saat Dia menahan apa yang menurut kita, kita butuhkan saat itu.
Sangat sering tindakan kita menunda hal itu dan menjalankan menurut cara kita, akhirnya mengakibatkan kesulitan besar. Jika kita belajar untuk tetap mempercayai Dia saat situasi kita terlihat tidak cerah, kita menyelamatkan diri dari kecelakaan.
Dorongan dosa ini berdampak pada hubungan antara Abraham dan Sarah. Hagar hamil dan menjadi sombong dan tidak bisa diatur. Sarah menyalahkan Abraham karena hal itu yang sebenarnya idenya sendiri. Kemudian dia memperlakukan Hagar dengan kasar, dan hal itu menunjukan kepahitan dan kekecewaan jiwanya. Sementara itu, Abraham mengelak dari tugas. Dia sejak awal seharusnya berkata “tidak” pada rencana berdosa Sarah. Tapi sekarang dia berkata supaya Sarah menangani masalahnya sendiri, melakukan apapun yang Sarah mau, agar berhenti mengganggunya tentang hal ini (Gen. 16:6).
Itu sangat sulit bagi istri untuk tunduk pada ubur-ubur, seorang pria yang menolak bertanggung jawab, mengabaikan pengambilan keputusan, dan menghindar dari tanggung jawab. Tidak ada yang bisa ditaati, tidak ada kepemimpinan yang bisa diikuti. Seorang istri tidak bisa menolong suaminya memenuhi tujuan Tuhan bagi hidupnya saat istri tidak tahu apa tujuannya.
Bahkan manusia yang hebat dalam iman memiliki saat kegagalan. Dan tidak ada yang lebih buruk dari saat Abraham dan Sarah menertawakan Tuhan. Mereka berdua melakukannya. Tuhan mengatakan pada Abraham kalau Sarah akan menjadi ibu dari bangsa-bangsa. Raja akan muncul dari dia. Abraham tertunduk dan tertawa, serta berkata, “Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?” (Gen. 17:17). Abraham mencoba membujuk Tuhan menerima Ismael sebagai ahli waris, tapi Tuhan berkata, “Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya” (Gen. 17:19).
Berikutnya giliran Sarah. Tuhan menampakan diri pada Abraham sebagai tamu ditendanya, dan Sarah mendengar dia berkata, “Sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara, isterimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki” (Gen. 18:10). Dia menguping dipintu tenda dan tertawa, berkata, “Akan berahikah aku, setelah aku sudah layu, sedangkan tuanku sudah tua?” (Gen. 18:12). Tidak disengaja, inilah bagaimana Petrus bisa mengetahui dia memanggilnya “tuan”. Ketaatan ada, tapi imannya goyang. Pergumulan iman nyata dan kita semua mengalaminya. Panah keraguan dari setan sering mengenai kita, dan kita sering meragukan kalau Tuhan bisa menyelesaikan masalah kita.
Tapi terima kasih untuk akhir yang merupakan kemenangan iman. Saya percaya titik balik pergumulan iman mereka muncul selama pertemuan dengan Tuhan. “Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Abraham: Mengapakah Sara tertawa?”. “Adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk TUHAN?” (Gen. 18:13, 14). Tantangan itu menusuk hati mereka yang ragu, dan iman dibaharui, kuat dan kokoh. Ada kemunduran saat di Gerar (Gen. 20:1-8). Tapi pada dasarnya semuanya berbeda sejak saat itu.
Tentang Abraham, rasul Paulus menulis, “Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan” (Rom. 4:19-21).
Tentang Sarah, penulis Ibrani menyatakan, “Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia” (Heb. 11:11). Iman mereka dihargai; Sarah mendapat anak dan menamainya Ishak, berarti “tertawa.” Dan Sarah mengatakan kenapa mereka menamakannya seperti itu: “Allah telah membuat aku tertawa; setiap orang yang mendengarnya akan tertawa karena aku” (Gen. 21:6). Tertawa keraguannya menjadi tawa kemenangan, dan kita bisa membagi sukacita dengannya.
Tetap ada masalah dimasa depan bagi Abraham dan Sarah. Kehidupan iman tidak pernah bebas dari hambatan. Hagar dan Ismael tetap mempermainkan Ishak. Dan Sarah sangat marah karena itu. Saat dia melihat Ismael mempermainkan sikecil Ishak, dia kehilangan kendali. Dia menyerbu Abraham dan dengan marah menuntut, “Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak” (Gen. 21:10). Apakah ini wanita yang sama, yang ditinggikan di PB karena ketaatannya? Ya. Ketaatan yang sehat tidak menghalangi pernyataan pendapat. Itu biasanya ketaatan yang sakit, yang umumnya dimotivasi oleh harga diri yang rendah (“pendapatku tidak berarti apa-apa”), oleh ketakutan akan keadaan yang tidak menyenangkan (“saya ingin kedamaian berapapun harganya”), atau oleh pengabaian tanggung jawab (“biarlah orang lain yang membuat keputusan; saya tidak ingin disalahkan”).
Sarah setidaknya mengatakan pikirannya. Dan, dia benar! Mengacaukan tidak benar. Tapi Ismael tidak akan menjadi pewaris bersama Ishak, dan Tuhan ingin dia pergi dari rumah.Tuhan berkata pada Abraham untuk mendengar Sarah (Gen. 21:12). Bayangkan itu—walau Sarah emosi, Tuhan ingin Abraham mendengar nasihatnya. Dia sering menggunakan istri untuk mengkoreksi suaminya, menasihatinya, mendewasakannya, menolong mengatasi masalah mereka dan memberikan mereka pengertian. Itulah gunanya penolong.
Sebagian suami sering tidak menganggap istrinya, pemikiannya dirasa menggelikan dan pendapatnya tidak bernilai. Suami yang melakukannya sangat mengabaikan istri. Dia kehilangan hal terbaik Tuhan baginya. Jika istri mengatakan pada suami, ada masalah dalam pernikahan mereka, Tuhan ingin dia mendengarnya—dengarkan penilaian situasinya, dengarkan perubahan yang istri pikir bisa dibuat, dengarkan saat dia mencoba membagikan perasaan dan kebutuhannya—kemudian lakukan sesuati yang membangun dari hal itu. Salah satu masalah dalam pernikahan Kristen masa kini adalah para suami terlalu sombong untuk mengakui ada yang salah dan terlalu keras kepal untuk melakukan sesuatu tentang hal itu. Tuhan mungkin ingin meneranginya melalui istri mereka.
Budak wanita dan anaknya akhirnya pergi. Ismael sudah cukup tua untuk menyediakan kebutuhan bagi ibunya, dan Tuhan memberikan dia keahlian memanah (Gen. 21:20). Dan dengan perpindahannya, ketiga anggota keluarga ini menikmati waktu persekutuan yang indah. Tapi pencobaan yang paling berat belum datang. “Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham” (Gen. 22:1). Itu merupakan ujian yang sangat tidak lazim. Tuhan berkata, “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu” (Gen. 22:2). Nama Sarah tidak muncul dalam pasal ini dan kita jarang menyebut dan membahasnya. Tapi dia pasti tahu apa yang terjadi. Dia mungkin menolong mempersiapkan perjalanan itu. Dia melihat kayu, api dan pisau; dia melihat Ishak, dan dia melihat Abraham, kerutan penderitaan batin terpancar didahi. Tapi dia tidak melihat hewan korban. Alkitab berkata bahwa Abraham percaya kalau Tuhan bisa membangkitkan Ishak dari kematian (Heb. 11:19). Sarah pasti percaya itu juga.
Dia menyaksikan mereka menghilang dari pandangan, dan walau hati keibuannya hancur, dia tidak protes. Itu mungkin penunjukan imannya pada Tuhan dan ketaatan pada kehendak suami yang terbesar. “Sebab demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu berdandan, yaitu perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya kepada Allah; mereka tunduk kepada suaminya, sama seperti Sara taat kepada Abraham dan menamai dia tuannya. Dan kamu adalah anak-anaknya, jika kamu berbuat baik dan tidak takut akan ancaman” (1 Pet. 3:5, 6). Seorang istri Kristen tidak perlu takut untuk taat saat harapannya ada dalam Tuhan. Dia pasti setia pada perkataanNya dan menggunakan ketaatannya untuk mencapai apa yang terbaik baginya.
Sarah merupakan salah satu wanita yang dibicarakan Raja Lemuel, yang berlaku baik pada suaminya dan tidak jahat pada masa hidupnya (Prov. 31:12). Seorang wanita hanya bisa jadi istri seperti itu saat dia percaya bahwa tidak ada yang sulit bagi Allah, dan saat dia percaya Tuhan bisa menggunakan bahkan keselahan suaminya untuk membawa kemuliaan bagi DiriNya dan berkata bagi hidup mereka. Dan seorang pria bisa mendapat ketaatan istri seperti itu saat dia belajar mengikuti arahan Tuhan daripada mengejar tujuannya yang egois, Dia tahu kalau mereka tidak punya kemampuan untuk menjamin kedudukan kepemimpinannya. Itu hanya diberikan Tuhan. Jadi dia menerima kepercayaan itu dan melakukannya dalam ketaatan penuh pada Tuhan dan dengan tidak egois mempertimbangkan istrinya dan apa yang terbaik bagi istrinya.

Mari kita bicarakan

    1. Bagi suami: apa tujuanmu dalam hidup? Apakah anda sudah mengkomunikasikan hal ini dengan istri anda? Untuk istri: dengan cara apa anda bisa menolong suami anda memenuhi kehendak Tuhan bagi hidupnya?
    2. Kenapa suami harus mencari nasihat istri dalam keputusan yang mempengaruhinya?
    3. Dalam situasi seperti apa istri paling sulit untuk tunduk?
    4. Bagaimana Tuhan mengharapkan istri bereaksi saat dia merasa suaminya diluar kehendak Tuhan?
    5. Untuk istri: apakah ada wilayah dimana ketaatanmu dimotivasi oleh harga diri rendah, takut akan situasi yang tidak enak, atau menghindari tanggung jawab? Apa yang seharunya jadi dasar ketaatan yang sehat?
    6. Bagaimana cara suami menggunakan peran pemimpin dalam memaksakan jalannya? Apa yang mereka bisa lakukan untuk menghindari hal itu?
    7. Karena Tuhan menentukan suami dalam peran pemimpin, apa tanggung jawabnya pada istri?
    8. Untuk istri: Bagaimana Tuhan ingin anda mengungkapkan pendapat dan keinginan pada suami? Untuk suami: Bagaimana Tuhan harapkan anda bereaksi saat istri mencoba berkomunikasi?

God Love You

THE LORD has appeared of old to me, saying: "Yes, I have loved you with an everlasting love; therefore with loving kindness I have drawn you."  -Jeremiah 31:3

For I know the thoughts that I think toward you, says the LORD, thoughts of peace and not of evil, to give you a future and a hope.
-Jeremiah 29:11

"I have loved you," says THE LORD.
-Malachi 1:2a

As a father pities his children, so the LORD pities those who fear Him.
-Psalm 103:13

Indeed it was for my own peace that I had great bitterness; but You have lovingly delivered my soul from the pit of corruption, for You have cast all my sins behind Your back.
-Isaiah 38:17

And we have known and believed the love God has for us. We love Him because He first loved us.
-1 John 4:16a,19

"The LORD your God in your midst, the Mighty One, will save; He will rejoice over you with gladness, He will quiet you in His love, He will rejoice over you with singing."
-Zephaniah 3:17

How precious is Your loving kindness, O God
-Psalm 36:7a

Rabu, 27 Maret 2013

Belajar Tentang Kehidupan

Berjalan dengan keong


Pada suatu hari Tuhan memberiku sebuah tugas, yaitu membawa keong jalan-jalan. Aku tak dapat jalan terlalu cepat, keong sudah berusaha keras merangkak. Setiap kali hanya beralih sedemikian sedikit.
Aku mendesak, menghardik, memarahinya, Keong memandangku dengan pandangan meminta-maaf, serasa berkata : “aku sudah berusaha dengan segenap tenaga !”

Aku menariknya, menyeret, bahkan menendangnya, keong terluka. Ia mengucurkan keringat, nafas tersengal-sengal, merangkak ke depan.
Sungguh aneh, mengapa Tuhan memintaku mengajak seekor keong berjalan-jalan.
Ya Tuhan! Mengapa ? Langit sunyi-senyap. Biarkan saja keong merangkak didepan, aku kesal dibelakang. Pelankan langkah, tenangkan hati….

Oh? Tiba-tiba tercium aroma bunga, ternyata ini adalah sebuah taman bunga.
Aku rasakan hembusan sepoi angin, ternyata angin malam demikian lembut.
Ada lagi! Aku dengar suara kicau burung, suara dengung cacing.
Aku lihat langit penuh bintang cemerlang.
Oh? Mengapa dulu tidak rasakan semua ini ?
Barulah aku teringat, Mungkin aku telah salah menduga!

Ternyata Tuhan meminta keong menuntunku jalan-jalan sehingga aku dapat mamahami dan merasakan keindahan taman ini yang tak pernah kualami kalo aku berjalan sendiri dengan cepatnya.
“He’s here and with me for a reason”
Saat bertemu dengan orang yang benar-benar engkau kasihi,
Haruslah berusaha memperoleh kesempatan untuk bersamanya seumur hidupmu.
Karena ketika dia telah pergi, segalanya telah terlambat.

Saat bertemu teman yang dapat dipercaya, rukunlah bersamanya.
Karena seumur hidup manusia, teman sejati tak mudah ditemukan.
Saat bertemu penolongmu,
Ingat untuk bersyukur padanya.
Karena ialah yang mengubah hidupmu

Saat bertemu orang yang pernah kau cintai,
Ingatlah dengan tersenyum untuk berterima-kasih .
Karena ia lah orang yang membuatmu lebih mengerti tentang kasih.

Saat bertemu orang yang pernah kau benci,
Sapalah dengan tersenyum.
Karena ia membuatmu semakin teguh / kuat.

Saat bertemu orang yang pernah mengkhianatimu,Baik-baiklah berbincanglah dengannya.
Karena jika bukan karena dia, hari ini engkau tak memahami dunia ini.

Saat bertemu orang yang pernah diam-diam kau cintai,
Berkatilah dia.
Karena saat kau mencintainya, bukankah berharap ia bahagia ?

Saat bertemu orang yang tergesa-gesa meninggalkanmu,
Berterima-kasihlah bahwa ia pernah ada dalam hidupmu.
Karena ia adalah bagian dari nostalgiamu

Saat bertemu orang yang pernah salah-paham padamu,
Gunakan saat tersebut untuk menjelaskannaya.
Karena engkau mungkin hanya punya satu kesempatan itu saja untuk menjelaskan

Saat bertemu orang yang saat ini menemanimu seumur hidup,
Berterima-kasihlah sepenuhnya bahwa ia mencintaimu.
Karena saat ini kalian mendapatkan kebahagiaan dan cinta sejati..


Sahabat… syukuri setiap lembar kisah hidup kita. Karena kita memang benar – benar lemah dan bodoh di hadapan Sang Pencipta. DIA telah menentukan yang terbaik bagi kita, DIA memberikan apa yang kita perlukan bukan yang kita mau..
Pada suatu hari Tuhan memberiku sebuah tugas, yaitu membawa keong jalan-jalan. Aku tak dapat jalan terlalu cepat, keong sudah berusaha keras merangkak. Setiap kali hanya beralih sedemikian sedikit.
Aku mendesak, menghardik, memarahinya, Keong memandangku dengan pandangan meminta-maaf, serasa berkata : “aku sudah berusaha dengan segenap tenaga !”

Aku menariknya, menyeret, bahkan menendangnya, keong terluka. Ia mengucurkan keringat, nafas tersengal-sengal, merangkak ke depan.
Sungguh aneh, mengapa Tuhan memintaku mengajak seekor keong berjalan-jalan.
Ya Tuhan! Mengapa ? Langit sunyi-senyap. Biarkan saja keong merangkak didepan, aku kesal dibelakang. Pelankan langkah, tenangkan hati….

Oh? Tiba-tiba tercium aroma bunga, ternyata ini adalah sebuah taman bunga.
Aku rasakan hembusan sepoi angin, ternyata angin malam demikian lembut.
Ada lagi! Aku dengar suara kicau burung, suara dengung cacing.
Aku lihat langit penuh bintang cemerlang.
Oh? Mengapa dulu tidak rasakan semua ini ?
Barulah aku teringat, Mungkin aku telah salah menduga!

Ternyata Tuhan meminta keong menuntunku jalan-jalan sehingga aku dapat mamahami dan merasakan keindahan taman ini yang tak pernah kualami kalo aku berjalan sendiri dengan cepatnya.
“He’s here and with me for a reason”
Saat bertemu dengan orang yang benar-benar engkau kasihi,
Haruslah berusaha memperoleh kesempatan untuk bersamanya seumur hidupmu.
Karena ketika dia telah pergi, segalanya telah terlambat.

Saat bertemu teman yang dapat dipercaya, rukunlah bersamanya.
Karena seumur hidup manusia, teman sejati tak mudah ditemukan.
Saat bertemu penolongmu,
Ingat untuk bersyukur padanya.
Karena ialah yang mengubah hidupmu

Saat bertemu orang yang pernah kau cintai,
Ingatlah dengan tersenyum untuk berterima-kasih .
Karena ia lah orang yang membuatmu lebih mengerti tentang kasih.

Saat bertemu orang yang pernah kau benci,
Sapalah dengan tersenyum.
Karena ia membuatmu semakin teguh / kuat.

Saat bertemu orang yang pernah mengkhianatimu,Baik-baiklah berbincanglah dengannya.
Karena jika bukan karena dia, hari ini engkau tak memahami dunia ini.

Saat bertemu orang yang pernah diam-diam kau cintai,
Berkatilah dia.
Karena saat kau mencintainya, bukankah berharap ia bahagia ?

Saat bertemu orang yang tergesa-gesa meninggalkanmu,
Berterima-kasihlah bahwa ia pernah ada dalam hidupmu.
Karena ia adalah bagian dari nostalgiamu

Saat bertemu orang yang pernah salah-paham padamu,
Gunakan saat tersebut untuk menjelaskannaya.
Karena engkau mungkin hanya punya satu kesempatan itu saja untuk menjelaskan

Saat bertemu orang yang saat ini menemanimu seumur hidup,
Berterima-kasihlah sepenuhnya bahwa ia mencintaimu.
Karena saat ini kalian mendapatkan kebahagiaan dan cinta sejati..


Sahabat… syukuri setiap lembar kisah hidup kita. Karena kita memang benar – benar lemah dan bodoh di hadapan Sang Pencipta. DIA telah menentukan yang terbaik bagi kita, DIA memberikan apa yang kita perlukan bukan yang kita mau..

 

Selasa, 26 Maret 2013

Kasih Allah kepada Bangsa Israel



Kata Musa kepada bangsa Israel "Bukan karena lebih banyak jumlahmu dari bangsa manapun juga, maka hati TUHAN terpikat olehmu dan memilih kamu--bukankah kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa? -- tetapi karena TUHAN mengasihi kamu ..." (Ulangan 7: 7,8)









Kasih Allah kepada Dunia ini
Kata Yesus kepada seorang pemimpin Yahudi bernama Nikodemus : Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3: 1,16)





Rasul Paulus menulis: "Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan." (Roma 10: 12,13)



Yesus adalah Mesias Bangsa Yahudi. Alkitab mengatakan:

1. Mesias akan dilahirkan di Betlehem - Mikha 5:2

2. Mesias akan datang dari Galilea - Yesaya 9:1, 6, 7

3. Mesias akan "disingkirkan" (dibunuh - BIS) sebelum penghancuran Bait Allah yang kedua pada 70 M (Daniel 9:26)

4. Mesias akan menjadi "seseorang yang penuh dengan kesengsaraan" (Yesaya 53:3), "dihina dan ditolak" (ay.3), "seperti domba yang dibawa ke pembantaian" (ay.7), "sebagai korban penebus salah (ay.10). "Tuhan telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian (ay.6). Namun setelah "kematianNya" (ay 9) Dia akan dibangkitkan dan "melihat keturunanNya" dan "umurnya akan lanjut "(ay 10), Dia "berdoa untuk pemberontak-pemberontak" (ay.12) dan "membenarkan banyak orang" (ay 11). "Oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh (ay 5). "Kita sekalian seperti domba yang sesat, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, dan ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya" (ay 5).



Nubuatan ini HANYA dapat dipenuhi oleh SESEORANG YANG MATI UNTUK DOSA SELURUH DUNIA" dan YANG TELAH DIBANGKITKAN KEMBALI.



Dua Israel dalam Perjanjian Baru

Pertama, "Israel menurut daging" ( I Korintus 10:18) terdiri dari "Israel ..... secara jasmani" (Roma 9:3,4) yang tidak mempercayai Yesus sebagai Mesias. Kedua, "Israel milik Allah" terdiri dari mereka yang telah menjadi "ciptaan baru" melalui anugrah dan belas kasihan dari Mesias (Galatia 6:14-16).



Tiga Pandangan Diantara Umat Kristen

1. Replacement Theology (Teologi Penggantian)

Pandangan ini mengajarkan "Israel" secara keseluruhan telah "digantikan" oleh "Gereja Kristen" secara keseluruhan. Mungkin ini terlalu disederhanakan, tetapi penekanannya adalah "Diluar bersama bangsa Yahudi, didalam bersama bangsa kafir (bangsa-bangsa lain)". Secara historis, mereka yang menerima pandangan ini menganggap hina bangsa Yahudi, mempersalahkan mereka atas kematian Yesus Kristus. Banyak pengikut Nazi menerima sudut pandang ini selama terjadinya "Bencana di Eropa".



2. Dispensational Theology (Teologi Menurut Takdir)

Pandangan ini sebagai reaksi umum dari Replacement Theology. Mengajarkan "Israel" sebagai bangsa , yang berpusat di Timur Tengah, adalah masih bangsa yang istimewa bagi Allah, yang "terpisah" dari "Gereja Kristen". Banyak yang memegang ajaran ini adalah mereka yang "mempercayai takdir" dalam hidup. Menurut ajaran ini "Gereja" yang "dipisahkan dari Israel", lahir pada hari Pentakosta (Kisah 2) dan berlanjut di dunia ini sampai hari Pengangkatan. Setelah gereja diangkat, maka Allah akan memenuhi semua janji-janjiNya dalam Perjanjian Lama kepada Israel secara harafiah yang berpusat di Timur Tengah. Pengajaran ini menerapkan banyak nubuatan di kitab Wahyu kepada negara Israel modern yang ada saat ini. Inilah doktrin yang paling banyak dianut ahli-ahli teologi Kristen. Meskipun pandangan ini berbeda dari "Replacement Theology", namun demikian, masih membangun "tembok pemisah" antara "Israel"dan "Gereja".



3. Israel of God Theology (Teologi Israel Milik Allah)

Pandangan ini memahami perbedaan antara "Israel menurut daging" (I Kor 10:18) dan "Israel milik Allah" (Galatia 6:16) yang terdapat dalam Perjanjian Baru. Israel milik Allah bukanlah Gereja Kafir (yang terdiri dari bangsa-bangsa lain) yang baru terbentuk dalam Perjanjian Baru, yang sama sekali telah "menggantikan" bangsa Yahudi (Replacement Theology), bukan juga sekedar "Israel" yang berpusat di Timur Tengah yang "terpisah" dari Gereja Allah yang benar (Pandangan Dispensionalis). Namun, Israel milik Allah adalah benar-benar Israel rohani kepunyaan Allah (Gereja Allah yang sesungguhnya) yang telah ada sepenjang sejarah, menjangkau baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Israel milik Allah terdiri dari umat yang setia, baik bangsa Yahudi maupun bangsa-bangsa lain, yang sunguh-sungguh berjalan dengan Allah, baik yang menunggu maupun yang mempercayai Yesus Kristus sebagai Mesias mereka. Abraham (berasal dari bangsa kafir), Musa, Daniel, Petrus, Paulus dan Lukas (juga dari bukan dari bangsa Israel), mereka semua adalah bagian dari Israel milik Allah. Pada jaman Elia, terdapat "Israel secara daging" yang mengikuti Ahab dan Izebel, namun demikian masih ada juga "Israel milik Allah" yang tetap taat dan menolak untuk "bertekuk lutut di depan patung Baal" (Roma 11:4,5). Dari mulai jaman Adam, Habel, dan Nuh, sampai pada jaman Musa dan "gereja di padang belantara" (Kisah 7:38), sampai pada orang-orang kudus di akhir jaman, Gereja Allah yang sesungguhnya, yaitu Israel milik Allah, selalu terdiri dari Bangsa Yahudi dan Bangsa-bangsa lain yang setia, yang mempertahankan iman mereka kepada Tuhan ditengah-tengah dunia yang penuh dengan ajaran-ajaran sesat, kemurtadan dan dosa. Situs ini percaya bahwa pandangan ke-tiga ini yang paling merefleksikan pengajaran yang sebenarnya dalam Perjanjian Baru dan keseluruhan Alkitab.



Kebenaran Dari Perjanjian Baru "Separation/Dispensational Theology" menyatakan bahwa "Gereja" dilahirkan pada hari Pentakosta dan "dipisahkan" dari "Israel". Fakta sebenarnya adalah "Gereja" pada hari Pentakosta justru seluruhnya terdiri dari Gereja Yahudi (Kisah 2:5, 36-38, 41, 47). Pemimpin-pemimpin mereka yang mula-mula (Petrus, Yahobus, Yohanes, dll), semua adalah Yahudi (Kisah 2:14; 3:1; 15:4,13). Mereka adalah bagian "Gereja" dan juga "Israel milik Allah". Yesus Kristus telah "merobohkan tembok pemisah" antara bangsa Yahudi (yang bersunat) dan bangsa-bangsa lain (yang tidak bersunat) - Efesus 2:11-14. Yesus Kristus datang untuk "memperdamaikan keduanya (antara Yahudi dan bangsa-bangsa lain)dalam satu tubuh melalui kematianNya di salib (ay.16). Sekarang keduanya menjadi "satu manusia baru dalam Kristus" (ay.15). Jadi, bangsa-bangsa lain, melalui Kristus sebagai Mesias, sekarang adalah "keturunan Abraham", berarti bagian dari "Israel milik Allah" (Galatia 6:16). Ini adalah kenyataan yang tak tergoyahkan dari Firman Allah.



"Israel" dalam kitab Wahyu

"Separatioan/Dispensational Theology" mengajarkan bahwa setelah "gereja" diangkat ke surga, bagian terbesar dari kitab Wahyu difokuskan kepada negara Israel modern yang berpusat di Timur Tengah. Sebenarnya, fokus dari kitab Wahyu bukanlah Israel menurut daging (Israel jasmani), tetapi adalah Israel milik Allah yang berpusat pada Yesus Kristus. Kitab Wahyu secara jelas menggunakan terminologi dan geografi dari Timur Tengah dalam nubuatan-nubuatannya. Terdapat kata "Israel" (7:4), Sodom dan Mesir (11:8), Gunung Sion (14:1), Bait Allah (15:5), Yerusalem (21:10), Babel (17:5), Eufrat (16:12), dan Armagedon/Lembah Megido-red (16:16). Namun, untuk mengerti dengan benar, kitab Wahyu harus ditafsirkan menurut "Roh" (1:10; 2:7,11,17,29; 3:6,13,22; 17:3; 21:10) dan tidak boleh menurut daging. Studi yang teliti dari kitab terakhir dari Alkitab ini mengungkapkan bahwa Allah secara konsisten mengambil bagian-bagian dari Israel kuno dan kemudian menerapkannya kepada Israel milik Allah dalam Yesus Kristus.



Dalam pasal pertama kitab Wahyu, "tujuh kaki dian" yang terdapat di Bait Allah Israel kuno digunakan sebagai simbol dari "tujuh jemaat" (1:3, 20). Disini terletak prinsip kuncinya: hal-hal pada jaman dulu dari bangsa Israel harafiah, diterapkan pada Israel milik Allah (gereja Allah yang sesungguhnya). Dalam pasal 2, Yesus Kristus menyebut "wanita Izebel" (2:20) yang menyesatkan Israel kuno. Namun Dia menggunakan wanita jahat ini sebagai simbol dari orang-orang yang mencoba menyesatkan GerejaNya. Sekali lagi prinsip penafsiran kitab Wahyu dinyatakan - hal-hal yang berkaitan dengan Israel kuno diterapkan kepada GerejaNya yang sesungguhnya, yaitu Israel milik Allah. Kitab Wahyu berbicara mengenai Sodom dan Mesir "rohani" (11:8), Bait Suci surgawi (11:19; 15:5; 16:1,17), Gunung Sion surgawi (14:1; 21:10), dan Yesusalem baru (21:10). Dalam Perjanjian Lama, kota Babel harafiah berada d atas sungai Efrat (Yeremia 51:63, 64).



Buku Wahyu menggunakan sejarah Babel kuno sebagai satu tipe, yang menunjuk kepada misteri "Babel besar" (17:5) yang "duduk" di atas "tempat yang banyak air" (17:1) dari "sungai Efrat yang besar" (16:12). Hal ini memperlihatkan suatu sudut interpretasi yang menerangkan bahwa "air" adalah simbolis, yang sebenarnya melambangkan "bangsa-bangsa, orang banyak" (17:5) di seluruh dunia yang mendukung penipuan dan ajaran sesat dari Babel di akhir zaman. Seperti juga Allah dulu "mengeringkan" sungai pada kota Babel di Perjanjian lama sebelum kehancuran kota itu (Jeremia 51:36, 63, 64), begitu juga akan terjadi pada Penghakiman Terakhir, Dia akan mengeringkan "air" (yang melambangkan bangsa-bangsa) dari Misteri Babel tepat sebelum dunia berakhir (Wahyu 16:12, 17-21, 18:7). Seperti Allah memanggil Israel harafiah (jasmani) untuk keluar dari Babel pada jaman Perjanjian Lama (Yeremia 51:44, 45), begitu pula Yesus Kristus saat ini memanggil "Israel milik Allah" untuk keluar dari Babel rohani sebelum terlambat. Tuhan menyerukan, "Pergilah kamu, hai umat-Ku, pergilah dari padanya supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya." (Wahyu 18:4).



Yesus Kristus saat ini berada di Bait Suci SurgawiNya (Ibrani 8:1,2). Tempat kediaman kita adalah Yerusalem Baru (Yohanes 14:1-3; Wahyu 21:2-5). Umat Kristen yang sungguh-sungguh adalah bagian dari Israel milik Allah (Galatia 3:29: 6:14-16) Kita harus menaklukkan dosa dan penipuan dari Misteri Babilon (Wahyu 2:7, 11,17,26; 3:5,12,21; 18;1-4). Melalui kasih dan anugrah Yesus sang Mesias, biarlah kita bersedia untuk Harmagedon (Wahyu 16:15,16)



Bagaikan Bejana


G                 Am
Bagaikan bejana siap dibentuk
      D            C      G
Demikian hidupku ditangan-Mu
      G          C
Dengan urapan kuasa Roh-Mu
     A           D
Ku dibaharui selalu
   G              C 
Jadikan ku alat dalam rumah-Mu
   D              C      G
Inilah hidupku di tangan-Mu
       G              C
Bentuklah s'turut kehendak-Mu
      Am          D      G
Pakailah sesuai rencana-Mu
G              Am
Ku mau s'perti-Mu Yesus
D          G
Disempurnakan selalu
Em             Am
Dalam segenap jalanku
  C       D    G
Memuliakan nama-Mu